26 April 2015

Merawat Harapan, Mengingat Arnold Ap

Via: indoprogress.com
MERAWAT harapan tak segampang menanam dan membunuhnya. Bila surga itu ada, saya yakin, para perawat harapanlah penghuninya. Perawat harapan bukan pemberi harapan palsu, karena yang terakhir ini sebetulnya hanya penipu. Yang merawat adalah mereka yang bekerja, sebodoh apapun orang-orang lain menganggapnya, dengan tekun dan antusias untuk hari depan lebih baik bagi banyak manusia. Tak jarang mereka sendiri pun, mungkin, tak punya bayangan yang pasti, bagaimana masa depan lebih baik itu. Karena yang lebih penting justru kepastian tak menyerah untuk membangun kehidupan.

Entah kenapa orang-orang seperti ini tidak banyak muncul di dalam situasi tanpa ancaman. Mereka justru hadir dalam situasi perang, konflik tak berkesudahan, pendudukan, atau penjara. Merekalah perawat harapan, orang-orang yang membuat kita berani hidup sebagai manusia, bukan ternak.

Pikiran ini membuncah setelah Lu’ay Bal’awi mengobrak-abrik perasaan saya. Ketika saya berusaha mencari awal paling tepat membuka tulisan ini. Sepertinya ia adalah salah satu murid Al-Kamandjati, sekolah, dan yang saya sebut sebagai, pergerakan musik yang didirikan oleh Ramzi Aburedwan.

Ramzi dulunya salah seorang anak Palestina pelempar batu pada Intifada pertama. Sekolah ini hendak ‘melindungi anak-anak Palestina dari tentara-tentara Israel.’ Setiap tahun Al Kamandjati menerima ratusan anak-anak Palestina yang menggunakan musik untuk menolong mereka melewati checkpoint dan serangan mendadak militer sambil merawat harapan untuk suatu negara merdeka mereka sendiri.

Kami tak mampu hanya duduk dan menunggu putusan politik yang menguntungkan yang akan mendirikan satu Negara Palestina. Kami harus bekerja proaktif membangkitkan kehidupan budaya orang Palestina.

Kami harus beraksi sekarang.

Kami mesti memberi kesempatan anak-anak berpikir melampaui tentara dan tank-tank. Mereka mesti berpikir kreatif, bukan tentang kehancuran negeri, tetapi tentang membangun kembali peradaban mereka.
Al Kamandjati, adalah perawat harapan.

Mungkin saya sok berani dan sedikit sok tahu ketika membayangkan Al Kamandjati ala Arnold Ap berdiri hari ini. Didirikan pada 1 Desember atau 1 Mei tak jadi soal. Bernama Mambesak atau yang lain, juga tak jadi soal. Saya tahu sebagian orang Papua lebih lazim mendengar nama Israel ketimbang Palestina, dan saya ambil resiko tidak populer dengan menarik contoh Al Kamandjati ini bagi Papua. Bagi saya pertimbangannya hanya satu: apa yang dilakukan Ramzi dkk pada anak-anak Palestina di bawah pendudukan Israel telah merawat harapan, mereka dengan lantang berbicara pada dunia tentang keadilan.

Orang Papua telah lama dipaksa kondisi untuk lebih tabah dan berani berhadapan dengan kematian, ketimbang membangun harapan. Mereka, menurut John Rumbiak, mengalami ‘Jiwa yang Patah’—hilang percaya diri, frustasi, apatis, mengendapkan dendam dan kebencian yang mendalam terhadap pihak yang membuat mereka menderita (I Ngurah Suryawan, 2013). ‘Mati hari ini, besok, kapan pun sama saja. Kenapa harus takut mati? Yang penting kita kerja baik untuk tanah dan bangsa Papua, supaya orang Papua bisa kenang…’ demikian kakak Yeem mengenang perkataan Nicalaus Yeem, yang mati karena penjara dan penyiksaan, bertahun-tahun kemudian.

Berani berhadapan dengan kematian justru menjadi kunci untuk hidup di Papua.

Ada yang hidup sekadar hidup, tetapi lebih banyak yang hidup dengan prinsip, menolak jadi budak di tanah sendiri. ‘Mungkin kamu berpikir saya ini sedang melakukan hal bodoh, tapi ini lah yang saya pikir dapat saya lakukan untuk rakyat, sebelum saya mati’ demikian ungkapan Arnold yang paling sering dikutip orang-orang yang menulis tentang dirinya. Namun kerja baik untuk tanah dan bangsa adalah kerja untuk memelihara kehidupan dan membangun peradaban. Suatu kerja yang sangat sulit di tengah murahnya harga nyawa, dan kerusakan peradaban kemanusiaan yang sudah terlampau dalam.

Kedua propinsi di Papua adalah wilayah dengan Angka Kematian Ibu tertinggi di Indonesia, orang-orang paling tidak berbahagia di negeri ini, penderita HIV/AIDS tertinggi di Indonesia, dan balita dengan gizi buruk tinggi di wilayah Indonesia. Papua juga adalah wilayah paling termiliterisasi dengan korban kekerasan terus meningkat setiap tahun. Menurut laporan KOMNAS HAM, sejak 1961 hingga 1998, telah terjadi 44 kali operasi militer diberbagai wilayah di Papua. Dalam periode 2012-2014, Elsam mencatat telah terjadi 389 kasus kekerasan, 234 tewas, 854 luka-luka, dan 880 ditangkap. Menurut beberapa organisasi HAM termasuk Amnesty Internasional, lebih dari 100.000 jiwa tewas sejak 1963, dan korban terbesar adalah warga biasa.

Hak hidup orang Papua semakin tidak dijamin. Menurunnya jumlah penduduk asli dibanding penduduk pendatang (58%:42 persen) adalah hal yang dibiarkan. Masyarakat pendatang dengan gampang dijumpai menguasai sektor-sektor ekonomi perdagangan dan menengah ke atas, tinggal di perkotaan, sementara masyarakat pribumi Papua umumnya tidak menguasai sektor ekonomi menengah atas dan tinggal di pedalaman, tanpa jaminan akses pendidikan dan kesehatan. Namun justru, perasaan dan pengalaman disingkirkan, terpojok, tersudut, dan tak terlindungi menjadi sumber gerakan perlawanan rakyat Papua (Hernawan, 2006). Berbagai ungkapan perasaan berani maju, siap mati, adalah representasi dari perasaan dan pengalaman tersingkir itu.

Arnold Ap adalah martir yang mengobati perasaan tersebut menjadi kekuatan penyatu. Dan kebudayaan asli Papua adalah obatnya.

Arnold dibunuh 26 April 1984 oleh Kopassandha, sebutan untuk Kopassus di masa itu, karena memiliki cita-cita dan berjuang mewujudkannya. Melalui Mambesak, kelompok musik yang ia dirikan, mengutip Ngurah Suryawan, ‘mengangkat kesenian rakyat Papua yang berakar pada lagu-lagu dan tari-tarian rakyat yang hidup pada keseharian rakyat Papua… memperkenalkan bahasa Indonesia dengan logat Papua dan menguraikan beberapa unsur kebudayaan Papua.’

Sambutan terhadap Arnold Ap dan Mambesak yang besar di kalangan masyarakat Papua era 1970-80an, siaran radionya yang didengar banyak orang, lima volume kaset lagu-lagu Papua yang diaransemen ulang laris manis, menjadi semacam medium dimana orang-orang Papua merasa satu nasib dan satu rasa.

Mengapa nyanyian dan tarian membuat Arnold dibunuh Kopassandha? Tidakkah serupa ketika Tirto Adhi Soerjo dibuang ke P. Bacan oleh Belanda karena, melalui tulisan, membangkitkan rasa senasib sepenanggungan orang-orang pribumi berhadapan dengan penjajah Belanda? Di dalam Mars Papua Mambesak, perasaan itu terungkap: ‘Saya tidak mau menjadi budak terus. Biar saya makan kah, tidakkah saya mau berdiri sendiri’. Kopassandha, dan militer Indonesia di bawah Soeharto, lebih takut pada besarnya potensi kekuatan dari bersatunya rasa senasib dan sepenanggungan ini ketimbang perjuangan bersenjata gerakan pro kemerdekaan di Papua.

Seorang Brimob, yang mengetahui peristiwa pembunuhan Arnold, mengonfirmasi bahwa pejabat kemiliteran memang menganggap Ap sebagai ‘orang yang sangat berbahaya karena aktivitas-aktivitas para pemain kelompok Mambesaknya dan menghendaki ia dihukum mati atau dihukum seumur hidup, namun tidak punya bukti untuk dibawa ke peradilan.’

Arnold juga seorang kurator Museum Antropologi di Jayapura. Rektor Universitas Cendrawasih memberhentikannya sementara sebagai kurator karena penahanan tersebut atas ‘dugaan subversi’. Ketika harian Indonesia, Sinar Harapan melaporkan bahwa keluarga Ap tidak diberikan hak untuk berkomunikasi, surat kabar itu diancam dibredel jika tidak menyuarakan keterangan versi tentara.’ Melalui pesan-pesan kebudayaan dalam nyanyian dan tari, Arnold Ap dan kawan-kawannya telah mengguncang stabilitas pilar-pilar kuasa nasionalisme berdarah Orde Baru di Papua.

Begitu besar harapan yang sedang ditanam dari proses itu ke dalam pikiran dan hati orang-orang Papua. Seperti mottonya, ‘kita bernyanyi untuk hidup yang dulu, sekarang dan nanti’ Mambesak hendak mengatakan nyanyiannya adalah perawat kehidupan orang Papua.

Menuntut keadilan atas kematian Arnold Ap adalah satu hal. Natalis Pigay pada 8 April 2015, dihadapan mahasiswa-mahasiswa Paniai di KOMNAS HAM mengatakan akan membawa kasus ini ke paripurna untuk dibuka kembali. Namun yang lebih penting bagaimana harapan yang telah ditanam pergerakan kebudayaan Arnold Ap bisa diteruskan. Dengan musik, lagu, dan tari, ‘kami mengetuk pintu keadilan’, demikian Max Binur, seorang perawat budaya Papua yang banyak mengangkat kembali semangat pergerakan budaya Arnold Ap.

Dalam semangat ini, saya rasa, pergerakan semacam Al-Kamandjati ala Papua pasca Arnold Ap, bisa menjadi semacam oase yang merawat harapan kehidupan orang-orang Papua. Bagaimana ia dilakukan bukanlah otoritas saya untuk bisa mengatakan. Perjuangan sosial politik yang sedang dilakukan hari ini oleh berbagai kelompok sipil dan politik di Papua adalah salah satu jalan agar keadilan tegak. Namun perjuangan kebudayaan adalah obat atas dirusaknya aspek-aspek kemanusiaan orang Papua akibat sejarah kekerasan dan carut marutnya otonomi khusus. Dan obat itu dibutuhkan sekarang.

Mengenang Arnold Ap pada 26 April, adalah momen untuk menggugat kekerasan militer di Papua sekaligus merajut kembali harapan kehidupan. Baginya, dengan bernyanyi kita memberikan spirit pada hidup. Jika tidak ada nyanyian, musnah pula kehidupan. Arnold Ap dan Mambesak telah memberi bekal orang-orang Papua untuk tidak saja berani berhadapan pada kematian, namun hidup demi merawat harapan. Harapan untuk dapat bangkit, memimpin dirinya sendiri, di tanahnya sendiri.

Hormat!

Awin Sup Ine

Orisyun isew mandep fyarawriwek
Nafek ro masen di bo brin mandira
Napyumra sye napyumda ra nadawer
Makamyun swaro beswar bepondina

Ref:
Awino kamamo sup ine ma
Yabuki mananis siwa muno
Yaswar I na yaswar I sof fioro

(Dalam cahaya gemilang,
sinar mentari melukis keindahan di langit,
menggelorakan pandangan & perasaan,
saat ini tak ada yg dapat menolong,
kecuali dengan mengingat kembali
peristiwa manis masa lalu
dan menghayati rasa cinta
yang mengikat kita pada tanah ini)***

Sumber : indoprogress.com/oase

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

close



Misteri3d

"Dongpusuka, Dongpumau, Dongpuselerah". Yang dong inginkan, dong harus dapat, apapun yang dong mau, iya suka-suka dorang, zapa mau larang zapa, selagi dong-dong itu berkuasa di Papua selerah dong punya ya, lesat rasanya, lama-lama habis sudah to manusia Papua secara perlahan satu demi satu, ya namanya juga dong pu 3d."




Comments

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *